menu

Minggu, 10 November 2013

SUPPLY CHAIN MANAGEMENT (Rangkuman Tugas Kelompok KSI Lanjut)


Sebuah rangkaian atau jaringan perusahaan-perusahaan yang bekerja secara bersama-sama untuk membuat dan menyalurkan produk atau jasa  kepada konsumen akhir/pelanggan. Rangkaian atau jaringan ini terbentang dari penambang bahan mentah (dibagian hulu) sampai retailer / toko (pada bagian hilir).

Dalam sebuah SC terdapat tiga aliran:
·         Material
·         Informasi
·         Dan Uang / dana.


Struktur SC yang sederhana


Supply chain yang umum memiliki tahap-tahap:

·         Pelanggan
·         Retailer
·         Wholesaler/ Distributor
·         Manufacturer
·         Component/ Raw material suppliers.

SCM merupakan konsep yang semakin penting pada era perdagangan bebas dan globalisasi. Dalam era tersebut, persaingan bukan lagi produk melawan produk atau perusahaan melawan perusahaan akan tetapi lebih kepada rantai pasok (supply chain) melawan rantai pasok. Disamping itu perlu juga diketahui berbagai sifat pergerakan supply chain untuk berbagai inventory.




Beberapa jenis inventory yaitu:
1.    Barang baku (raw materials)
Mata rantai pertama ada dipabrik pembuat bahan baku dan mata rantai terakhir ada di pabrik pembuat finished product (bukan dikonsumen akhir). Barang baku ini di pabrik pembuat finished product digabung dengan bahan penolong dan teknologi tertentu diolah menjadi bahan setengah jadi dan bahan jadi.


2.    Barang setengah jadi (semi finished product)
Permulaan mata rantai ada dipabrik pembuat bahan jadi. Bahan setengah jadi adalah hasil dari proses bahan baku. Bahan setengah jadi dapat langsung diproses di pabrik yang sama menjadi bahan jadi, tetapi dapat juga dijual kepada konsumen sebagai komoditas.

3.    Barang jadi (finished product)
Permulaan mata rantai bahan jadi ada di pabrik pembuatnya, sebagai hasil dari pengolahan bahan baku menjadi bahan setengah jadi tadi. Akhir mata rantai ada dikonsumen akhir pengguna atau pembeli hasil produksi tersebut.

4.    Materials dan suku cadang (MRO = Materials for maintenance, repair and operation)
Inventory yang digunakan untuk menunjang pabrik pembuat barang jadi tersebut, yaitu untuk maintenance, repair, dan operasi peralatan pabriknya. Mata rantai bermula dari pabrik pembuat material MRO tadi dan berakhir diperusahaan pembuat barang jadi tersebut, sebagai final user (manufacturer).

5.    Barang komoditas / commodity
Inventory jenis ini adalah barang yang dibeli oleh perusahaan tertentu sudah dalam bentuk barang jadi dan diperdagangkan dalam arti dijual kembali kepada konsumen.

 Diperusahaan tersebut, barang ini dapat diproses lagi, misalnya diganti bungkusnya atau diperkecil kemasannya, tetapi dapat juga dijual lagi langsung dalam bentuk asli seperti saat dibeli. Mata rantai inventory jenis bermula dari pabrik pembuat komoditas tersebut dan berakhir pada konsumen akhir pengguna barang tsb.


6.    Barang Proyek
Inventory jenis ini adalah material dan suku cadang yang digunakan untuk membangun proyek tertentu, misalnya membuat pabrik baru. Mata rantai panjangnya hampir sama dengan MRO materials, jadi bermula dari pabrik pembuat barang-barang tersebut dan berakhir di perusahaan pembuat barang jadi yang dimaksud.

Tantangan dalam Mengelola Supply Chain ;
1)   Kompleksitas Struktur Supply Chain
·         Melibatkan banyak pihak dengan kepentingan yang berbeda-beda (bertentangan).
·         Perbedaan bahasa, zona waktu dan budaya antar perusahaan.


2)   Ketidakpastian
·         Ketidakpastian permintaan
·         Ketidakpastian pasokan: lead time pengiriman, harga dan kualitas bahan baku,dll.
·         Ketidakpastian internal: kerusakan mesin, kinerjamesin yang tidak sempurna, ketidakpastian kualitas produksi dll

Optimalisasi Supply Chain
1.    Tuntutan pelanggan yang terus berkembang
Dengan makin terbukanya pasar bebas yang mendunia (globalisasi), makaterjadi banyak dan begitu ketat persaingan antar perusahaan dan antar produk.Bagi para konsumen, ini merupakan keuntugan besar karena mereka mendapatkan :
·         Harga yang lebih kompetitif.
·         Pilihan sumber pembelian yang lebih banyak.
·         Mutu barng yang lebih banyak.
·         Pilihan brand yang lebih banyak.
·         Penyediaan yang lebih cepat.
·         Layanan lain yang lebih baik

Sikap para pelanggan tidak boleh diabaikan dan harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh.

Para pelanggan/consumers cenderung bersikap :
a.       Menghindari penjual yang pernah mengecewakan.
b.      Ingin mengalami proses pembelian barang dan jasa yang menyenangkan.
c.       Menyenangi pendekatan penjualan yang kreatif, ramah dan murah.
d.      Menuntut “more for less”.
e.       Mencari toko yang serba ada (departemen store, shooping mall, supermarket dsb) karena keterbatasan waktu berbelanja.
f.       Menghendaki barang yang aman dari segala hal.
g.      Pokoknya menghendaki harga, mutu, dan pelayanan yang lebih baik lagi.

2. Kekuasaan Retail yang Makin Besar.
Pengendali utama supply chain adalah consumer, maka yang berhubungan dengan itu adalah para retailer yang menanggapi kehendak dan tuntutan consumers yang makin meningkat dengan mengadakan perubahan-perubahan besar dalam penataan, dekorasi, teknik pelayanan dan personil tokonya. Cara-cara retailer untuk para konsumer memilih barang dalam pengambilan keputusan adalah:
·         Membuat display yang menarik untuk produk tertentu.
·         Memberikan diskon yang menarik untuk produk tertentu.
·         Memberikan bonus tertentu sebagai hadiah.
·         Menawarkan secara lebih aktif



3. Dilema dalam pencapaian Optimalisasi
Langkah yan penting dalam melakukan manajemen supply chain adalah menggalng, memperbaiki komunikasi harian diantara semua pelaku supply, mulai dari hilir sampai ke hulu. Komuniasi ini dapat mencegah kelambatanpenga dan barang maupun penumpukan barang digudang yang berlebihan.

4. Kendala dalam Membangun Kepercayaan
Beberapa hal yang melatarbelakangi kendala membangun kepercayaan adalah sbb:
·         Masih banyaknya anggapan bahwa supplier atau pihak lain adalah “lawan” atau bahkan “musuh” dalam berbisnis dan bukan “mitra”.
·         Masih banyaknya anggapan bahwa antar supplier atau pihak lain dan perusahaan sendiri pada hakikatnya mempunyai tujuan yang berlainan, bahkan saling bertentangan, sedangkan tujuan akhir adalah sama-sama survive dan growth.
·         Dalam negosisiasi, makin banyak yang mengharapkan hasil yang “win-lose” dan kurang mengenal konsep “win-win negotiation”.
·         Banyak yang masih melihat pada hubungan “jangka-pendek” dan kurang melihat hubungan “jangka panjang” yang saling menguntungkan.
·         Oleh karena itu, konsep-konsep baru seperti “win-win negotiation”, “supplier patnering”, dsb perlu dikembangkan diantara para peserta kegiatan supply dan didalam perusahaan sendiri untuk menciptakan kepercayaan yang sungguh diperlukan dalam mengoptimalkan manajemen supply chain.

5. Patnering sebagai Suatu Solusi
·         Meyakini memiliki tujuan yang sama (common goal).
·         Saling menguntungkan (mutual benefit).
·         Saling percaya (mutual trust).
·         Bersikap terbuka (transparent).
·         Menjalin hubungan jangka panjang (long term relationship).
·         Terus menerus melakukan perbaikan dalam biaya dan mutu barang/jasa

6. Teknologi Informasi sebagai Katalisator
Keberhasilan manajemen supply mungkin dapat dicapai tanpa menggunakan jasa teknologi informasi, yang dalam kasus ini harus bercirikan antara lain :
·         Hadrware dan software-nya mampu digunakan antar organisasi/perusahaan.
·         Clear information.
·         Real time POS (Point Of Sales) information.
·         Customer and network friendly.
·         High level effectiveness and efficiency

Peranan Teknologi Informasi dalam Manajemen Supply Chain
Secara umum teknologi infomrasi di dalam manajemen supply chain dapat dilihat dari dua perspektif besar :
a.       Perspektif Teknis
b.      Perspektif Manajerial


Konsep Sistem Informasi Korporat Terpadu
A. Sistem Informasi Terpadu
Konsep manajemen supply chain memperlihatkan adanya proses ketergantungan antara berbagai perusahaan yang terkait di dalam sebuah sistem bisnis. Semakin banyak perusahaan yang terlibat dalam rantai tersebut, akan semakin kompleks strategi pengelolaan yang perlu dibangun.

Tiga aliran entitas perusahaan yang harus dikelola dengan baik, yaitu :
1)      aliran produk dan jasa (flow of products and services).
2)      aliran uang (flow of money).
3)      aliran dokumen (flow of documents)

Arsitektur Sistem Informasi Korporat Terpadu
Membangun sebuah arsitektur sistem informasi korporat terpadu yang baik dapat dimulai dengan melihat siapa saja yang membutuhkan teknologi yaitu :
1.    Konsumen / pelanggan (end-consumer).
Berkat merekalah sebuah bisnis ada, sehingga mereka pasti membutuhkan berbagai jenis terkait dengan produk/jasa yang mereka beli dan mereka konsumsi.

2.    Manajemen.
Merekalah penggerak utama dari pengelolaan sebuah perusahaan. Dimana mereka membutuhkan suatu sistem inforasi yang dapat diandalkan untuk membantu dalam menentukan kebijakan-kebijakan atau mengambil keputusan strategis maupun taktis yang berkualitas.

3. Staf
Karena pada tingkat operasional, merekalah yang sehari-hari berhadapan langsung dengan aktivitas penciptaan produk maupun jasa yang tentu saja membutuhkan sangat banyak informasi sebagai sumber daya utama.

4. Rekanan Bisnis
Karena merekalah yang menjadi pemasok bahan-bahan maupun sumber daya-sumber daya lain yang dibutuhkan perusahaan untuk beroperasi menghasilkan beragam produk dan jasa.

Delapan komponen utama dalam arsitektur sistem informasi korporat terpadu :
1. Selling Chain Management Information System
Subsistem yang secara langsung berinteraksi dengan pelanggan agar mereka dapat dengan mudah melakukan akses ke produk dan jasa yang ditawarkan perusahaan, terutama yang berhubungan dengan aktivitas transaksi bisnis.

2. Customer Relationship Manangement Information System
Subsistem yang berfungsi sebagai sarana komunikasi efektif antara pelanggan dan perusahaan, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan informasi maupun bentuk pelayanan lainnya yang berhubungan dengan produk dan jasa yang ditawarkan.

3. Enterprise Resource Planning Information System
Subsistem yang secara langsung berfungsi mengintergrasikan proses-proses penciptaan produk atau jasa perusahaan, mulai dari dipesannya bahan-bahan mentah dan fasilitas produksi sampai dengan terciptanya produk jadi yang siap ditawarkan kepada pelanggan.

4. Management Control Information System
Subsistem yang bertanggung jawab memberikan data dan informasi bagi keperluan pengambilan keputusan manajemen perusahaan dan stakeholder lainnya, baik keputusan yang bersifat strategis maupun taktis sehari-hari.

5. Administrative Control Information System
Subsistem yang memiliki fungsi utama sebagai penunjang terselenggaranya proses-proses administrasi perusahaan (back office) yang menjadi tulang punggung komunikasi antar staf di dalam perusahaan.

6. Supply Chain Management Information System
Subsistem yang menghubungkan sistem informasi internal perusahaan dengan sistem informasi yang dimiliki para rekanan bisnis, terutama para pemasok (supplier) bahan-bahan yang dibutuhkan untuk proses produksi.

7. Enterprise Applications Intergration Information System
Subsistem yang memiliki tanggung jawab utama mengintergrasikan berbagai subsistem yang tersebar diberbagai divisi atau fungsi yang ada diperusahaan.

8. Knowledge-Tone Applications Information System
Subsistem yang memfokuskan diri pada penyediaan fungsi-fungsi intelligence bagi perusahaan, yang merupakan hasil pengolahan berbagai data dan informasi yang tersebar diberbagai sistem basis data perusahaan.


C. Strategi membangun Sistem Informasi Korporat Terpadu.
Secara umum, biasanya sebuah perusahaan akan melalui 5 tahapan evolusi dalam
mengembangkan sistem informasinya, (lihat gambar) yaitu :
1.    Cross-Functional Business Unit
Merupakan pengembangan modul aplikasi untuk fungsi bisnis tertentu saja, seperti untuk keperluan transaksi pembelian, penyusunan laporan keuangan, pencetakan slip gaji pegawai, dan sebagainya.

2.    Strategic Business Unit
Merupakan hasil penyatuan beberapa fungsi manajemen di dalam sebuah divisi atau unit bisnis tertentu, untuk membantu manajemen dan staf mencapai objektif yang ditargetkan terhadap divisi atau unit bisnis tertentu.

3.    Integrated Enterprise
Merupakan sistem informasi terpadu yang mengintergrasikan berbagai modul aplikasi yang dimiliki seluruh divisi atau unit bisnis di dalam perusahaan, yang merupakan embrio dari sistem informasi korporat terpadu.

4.    Extended Enterprise
Merupakan penggabungan sistem informasi korporat terpadu yang telah dimiliki oleh internal perusahaan dengan satu atau lebih subsistem dari perusahaan/entitas lain yang merupakan mitra kerja perusahaan terkait.

5.    Inter-Enterprise Community
Merupakan hasil dari berbagai hubungan terintegrasi sistem informasi antar perusahaan yang ada dalam komunits bisnis, sehingga membentuk jejaring sistem informasi yang sangat besar dan luas cakupannya (internetworking).

Kelompok 1 :
·         Bayu Nur Priambodo
·         Iren Berita
·         Martina Amirull Hady
·         Nurida Rismawati
·         Robby Hidayat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar